Keaslian dan Kebenaran Mutlak Al-Quran

Al-quran itu sendiri dengan tegas menyatakan bahwa ia adalah sebuah ‘kitab yang mulia’ yang ‘penuh kekuatan’. Isinya bukan hanya tidak rusak, tapi juga tidak dapat dirusak, karena tidak ada kejahatan atau kepalsuan yang bisa mendekatinya dari segala arah agar bisa merusaknya:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالذِّكْرِ لَمَّا جَاءَهُمْ ۖ وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ

Sungguh orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran peringatan ini segera setelah peringatan itu datang kepada mereka – [merekalah orang-orang yang merugi]: sebab perhatikanlah, ia adalah kitab Ilahi yang mulia; (Qur’an, Fussilat, 41:41)

لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ ۖ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

Tiada kebatilan dapat menyentuhnya baik secara terbuka maupun tersembunyi, [karena ia] diturunkan oleh Yang Mahabijaksana, Maha Terpuji. (Qur’an, Fussilat, 41:42)

Oleh karena itu, setiap kali pembaca menemukan konflik antara Al-Quran dan apa yang ada dalam kitab suci yang diturunkan sebelumnya, pembaca semacam itu disarankan untuk membandingkan keaslian dan integritas dari teks-teks wahyu yang bertentangan satu sama lain, dengan tujuan untuk menemukan kebenaran. Kegagalan untuk menerapkan metodologi semacam ini untuk menyelesaikan masalah kontradiksi tersebut mengakibatkan konsekuensi yang sangat merugikan bagi pencarian kebenaran.

Al-Quran itu sendiri berulang kali menyampaikan bahwa ia (isinya) tidak rusak dan tidak dapat dirusak:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا

Segala puji sepantasnya dipanjatkan kepada Allah, yang telah menurunkan kitab Ilahi ini kepada hamba-Nya dan tidak membiarkan sedikitpun kebengkokan mengaburkan maknanya: (Qur’an, Al-Kahf, 18:1)

Deklarasi ini menyampaikan sebuah peringatan mengenai keaslian dan integritas teks wahyu yang mendahului wahyu Al-Quran.

Dan lagi:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Perhatikanlah, Kami sendirilah yang telah menurunkan, setahap demi setahap, peringatan ini: dan, perhatikanlah, Kamilah yang akan benar-benar menjaganya [dari segala kerusakan]. (Qur’an, Al-Hijr, 15:9)

Perlu diingat kembali bahwa deklarasi Allah SWT tentang perlindungan-Nya atas teks Al-Qur’an ini dibuat lebih dari seribu empat ratus tahun yang lalu, dan semua yang dibutuhkan untuk menghancurkan klaim Al-Qur’an sebagai Kebenaran, termasuk usaha untuk membuat perubahan atau variasi (sekecil apapun) pada teks Al-Quran, baik selama dua puluh tiga tahun periode dikte ayat-ayat Al-Quran oleh Nabi Muhammad SAW saat wahyu diturunkan kepadanya, atau dalam jangka waktu yang lama berlalu sejak periode pendiktean selesai. Setiap perubahan atau variasi dalam teks Al-Quran, terlepas dari seberapa kecilnya, tentunya akan segera membatalkan klaim perlindungan Allah SWT tersebut.

Namun, mereka yang ingin mengubah teks Al-Qur’an akan menghadapi kesulitan yang tidak dapat diatasi. Al-Quran adalah satu-satunya Kitab Wahyu yang kita tahu tentang teksnya (isinya) yang terjaga dan terpelihara, tidak hanya dalam bentuk tertulis, namun juga tersimpan dalam memori jutaan orang yang telah menghafal kata demi kata dan huruf demi huruf. Bahkan jika setiap salinan Al-Quran dihancurkan, atau bahkan jika sebuah percetakan mencetak salinan Al-Quran dengan kesalahan ketik (seperti yang sekarang terjadi), tulisan tersebut dapat dengan mudah dicetak ulang dengan benar saat dibacakan dari memori secara sintaktis dan Bentuk tata bahasa yang benar oleh orang-orang tertentu yang sudah hafiz Al-Quran. Hal ini bisa dilakukan bahkan oleh jutaan orang non-Arab yang telah menghafal teks Al-Qur’an berbahasa Arab, walaupun banyak dari mereka sebenarnya tidak bisa berbahasa Arab.

Leave a Reply