SURAH AL-KAHFI: Tafsir Modern Bahasa Indonesia

Pada tahun ketiga belas misinya sebagai nabi Allah SWT yang terakhir di bumi, Muhammad SAW terpaksa meninggalkan kota tercintanya Makkah dan mencari perlindungan ke kota bagian Arab utara yang jauh, yaitu Yatsrib (sekarang bernama Madinah). Dia harus pergi karena orang-orang pagan [kafir] Arabia melancarkan perang terhadap Islam. Hari ini, kembali terjadi, tatanan dunia yang dikuasai oleh aliansi Yahudi-Kristen [Zionis] yang pada dasarnya pagan telah melancarkan perang tidak adil terhadap Islam dengan kedengkian dan kemarahan yang sama dengan yang dilancarkan oleh orang-orang Arab pagan terhadap Nabi Muhammad Saw.


Ketika Nabi tiba di Madīnah, pertemuannya dengan orang-orang Yahudi [yang telah lama ditunggu] dimulai. Dan tahap ‘perang’ mereka saat ini terhadap Islam menandai babak akhir dari pertemuan itu. Islam menang dengan jaya dari pertemuan pertama itu, dan ini sama pastinya seperti siang mengikuti malam bahwa Islam akan kembali berjaya dalam pertemuan terakhir yang mana sejarah akan berakhir.

Al-Qur’an sendiri menggambarkan orang-orang Yahudi menganggap bahwa mereka adalah “umat pilihan Allah dengan mengesampingkan seluruh umat manusia lainnya” dengan akses istimewa terhadap kebenaran dan bahwa “surga diperuntukkan bagi mereka.” Namun hati mereka sepenuhnya terikat dengan kehidupan dunia ini dan mereka sangat menginginkan “hidup seribu tahun.” Perhatikan ayat-ayat Al-Qur’an berikut ini:

قُلْ إِنْ كَانَتْ لَكُمُ الدَّارُ الْآخِرَةُ عِنْدَ اللَّهِ خَالِصَةً مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Katakanlah: “Jika kehidupan akhirat bersama Allah itu hanya untuk kalian, bukan untuk orang lain, seharusnya kalian merindukan kematian – jika apa yang kalian katakan itu memang benar!” (Qur’an, al-Baqarah, 94)

وَلَنْ يَتَمَنَّوْهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ

Akan tetapi, mereka tidak akan pernah merindukan kematian itu karena [mereka sadar] akan perbuatan tangan mereka di dunia ini: dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim. (Qur’an, al-Baqarah, 95)

وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَىٰ حَيَاةٍ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا ۚ يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ

وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَنْ يُعَمَّرَ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ

Dan, engkau pasti akan mendapati bahwa mereka terikat kepada kehidupan dengan lebih hebat ketimbang manusia mana pun, bahkan melebihi orang-orang yang berkukuh menisbahkan ketuhanan kepada apa pun selain Allah: masing-masing di antara mereka itu ingin hidup seribu tahun, meskipun pemberian hidup yang lama itu tidak akan dapat menyelamatkannya dari penderitaan [di akhirat]: karena Allah Maha Mengetahui semua yang mereka kerjakan. (Qur’an, al-Baqarah, 96)

Surah al-Kahfi diturunkan segera sebelum Nabi Muhammad Saw tiba di Madinah, yaitu, pada tahun terakhir beliau tinggal di Makkah, dan surah ini [al-Kahfi] menyampaikan suatu respons Allah terhadap konsep agama yang salah dari orang-orang Yahudi. Muhammad Asad berkomentar, misalnya, bahwa Sūrah ini “hampir seluruhnya ditujukan untuk serangkaian perumpamaan atau kiasan yang dibuat berdasarkan tema Iman kepada Allah SWT melawan keterikatan yang tidak semestinya terhadap kehidupan dunia ini; dan kata kunci dari keseluruhan Surah Al-Kahfi ini adalah pernyataan di ayat ke 7, “Kami telah menghendaki agar semua keindahan di bumi menjadi sarana untuk Kami menguji manusia.”

Namun, surah al-kahfi juga membahas masalah orang-orang Yahudi dalam konteks Akhir Zaman – sebuah zaman yang akan menyaksikan Dajjāl, Mesias Palsu atau Anti-Kristus, serta Ya’juj & Ma’juj yang meluncurkan serangan mengerikan terhadap Islam, umat Muslim dan umat manusia pada umumnya. Nabi Muhammad Saw mengungkapkan rangkaian kejadian menakjubkan yang akan terjadi pada saat itu. Riba, misalnya, akan mencengkeram kehidupan ekonomi di seluruh dunia dan massa akan diperas sehingga merasakan kemiskinan yang menggigit.

Bagaimana orang miskin menanggapi orang yang dengan tidak adil mengumpulkan kekayaan dan kemudian menggunakan kekayaan itu untuk menguasai dunia dari Yerusalem? Surah al-Kahfi menanggapi pengekangan orang-orang miskin itu melalui perumpamaan yang mengandung ajaran moral yang ditujukan kepada si kaya dan si miskin (ayat 32-44).

Perang terhadap Islam di akhir zaman akan sangat kuat sehingga Nabi Muhammad SAW menubuatkan bahwa “berpegang pada Islam akan seperti berpegangan pada bara panas”. Kisah para pemuda di Gua (ayat 13-20) – asal nama Sūrah ini diambil – menggambarkan, menurut Muhammad Asad, “prinsip pengabaian dunia demi iman.” Namun kisah ini juga berfungsi sebagai penguat moral karena diakhiri dengan kemenangan Islam (yaitu, dalam keputusan membangun Masjid untuk memperingati peristiwa menakjubkan tersebut). Tapi, karena hanya satu dari seribu orang yang bisa mempertahankan iman dari kekuatan jahat Ya’juj dan Ma’juj (Sahīh Bukhāri) implikasinya adalah bahwa prinsip pengabaian dunia demi iman akan dikritik, dikutuk dan ditolak secara universal, bahkan oleh banyak muslim yang lalim.

Asad sekali lagi memberikan komentar yang membuat kita tertegun mengenai kisah Musa as dan Khidr, orang bijak (ayat 60-82). Dia mengatakan, “tema kebangkitan spiritual mengalami variasi yang signifikan ketika dialihkan ke bidang kehidupan intelektual manusia dan pencariannya atas kebenaran tertinggi. Penampilan (yang terlihat dari luar) dan kenyataan terbukti berbeda secara intrinsik – sangat berbeda sehingga hanya pengetahuan internal (batin) yang bisa mengungkapkan kepada kita apa yang semu dan apa yang nyata.”

Perbedaan yang menakjubkan antara ‘penampilan’ dan ‘realitas’ akan muncul di dunia pada saat Akhir Zaman, dan akan dipandu oleh Dajjal, Mesias palsu. Nabi Muhammad Saw memberitahu umatnya bahwa Dājjal, yang bermata satu, karenanya buta secara internal, akan datang dengan “api” dan “sungai”. Tapi “sungainya akan menjadi api, dan apinya akan menjadi air sungai yang sejuk.” Karena itu, semua hal yang menyangkut Dājjal tidak akan seperti apa yang terlihat. Dan ketika penilaian didasarkan semata-mata pada pengamatan eksternal, yaitu pengamatan terhadap apa yang terlihat dari luar, orang yang seperti ini akan tertipu dan penilaiannya akan selalu salah.

Makna dari kisah Musa dan Khidr (as) dalam surah ini adalah bahwa hanya hamba-hamba Allah SWT yang melihat dengan dua mata, yaitu mata eksternal dan mata internal (mata yang diberkati oleh Allah dengan pengetahuan spiritual intuitif internal), akan mampu menembus realitas dunia yang sebenarnya pada zaman Dajjāl.

Syaikh Sufi Islam yang otentik selalu dibedakan dalam sejarah Islam sebagai orang yang diberkati dengan pengetahuan spiritual intuitif internal. Namun, ada banyak ulama Islam dan pemimpin masyarakat “bermata satu” yang salah arah saat ini yang menyerang Syaikh Sufi Islam yang otentik (seperti Maulana Dr. Muhammad Fazlur Rahman Ansāri, dan gurunya, Maulana ‘Abd al-‘Aleem Siddīqui). Mereka juga berusaha semaksimal mungkin untuk meminggirkan dan membungkam para ulama Islam yang merangkul epistemologi sufi dan diberkati dengan pengetahuan spiritual.

Para ulama dan pemimpin komunitas sesat itu sendiri biasanya sangat tidak memiliki wawasan spiritual sehingga mereka tidak dapat mengenali negara sekuler modern yang syirik. Mereka juga tidak dapat mengenali penggunaan uang kertas saat ini sebagai sesuatu yang Haram. Jadi ketika uang kertas lenyap esok hari, dan sepenuhnya diganti dengan uang elektronik, mereka akan menyambut hal tersebut dengan kebutaan yang sama dengan yang mereka alami pada uang kertas yang dengan curang digunakan saat ini. Mereka juga bersikeras menyatakan bahwa transaksi Murābaha pada Bank Syariah sebagai sesuatu yang Halāl yang sebenarnya hal ini juga Harām, ‘transaksi Riba secara sembunyi-sembunyi! Mereka adalah orang-orang yang menolak hak perempuan untuk sholat di Masjid, atau mengizinkan mereka di Masjid tapi menolak hak mereka untuk shalat dan berdoa di dalam satu ruangan dengan laki-laki! (Sahih Muslim).

Artikel ini ditulis dengan keyakinan kuat bahwa tidak seorang pun dapat menembus dan memahami realitas dunia saat ini kecuali jika Al-Quran Suci digunakan sebagai alat dasar pemahaman. Bagaimanapun, bukankah Allah SWT menyatakan bahwa Al-Qur’an menjelaskan semua hal:

وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ ۖ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

sebab, suatu Hari, akan Kami bangkitkan dari setiap masyarakat seseorang yang bersaksi melawan mereka dari kalangan mereka sendiri. Dan engkau [pun, wahai Nabi,] telah Kami tampilkan menjadi saksi berkenaan dengan mereka [yang telah menerima pesan-pesanmu], karena Kami telah menurunkan kepadamu kitab Ilahi ini [al-Qur’an], setahap demi setahap, untuk membuat jelas segala sesuatunya, dan untuk memberikan petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi semua orang yang telah berserah diri kepada Allah. (Qur’an, al-Nahl, 16:89)

Kedua, kita sama-sama yakin bahwa Sūrah al-Kahfi, adalah kunci yang bisa digunakan oleh orang-orang mu’min untuk membuka era modern yang aneh dan merespons dengan tepat tantangan era modern yang luar biasa. Nabi Muhammad Saw telah menyarankan orang-orang beriman untuk menghafal sepuluh ayat pertama dari Sūrah al-Kahfi untuk perlindungan dari Dajjāl. Dan beliau juga menyarankan agar siapapun yang membacakan seluruh surah ini pada hari raya Jum’at akan menerima nur (penerangan/ petunjuk) dari Allah dan nur itu akan tetap bersamanya sampai hari Jum’at berikutnya.

Akhirnya, kami bersikeras bahwa hanya pengetahuan spiritual intuitif internal yang merupakan buah dari epistemologi sufi yang dapat menyampaikan penjelasan, tentang, surah ini dan menanggapi, Era Modern yang aneh ini, yang merupakan bagian terakhir dari akhir sejarah.

The Sūrah ends with the allegory of DhuI Qarnain, who possessed both faith and power, and who established a world-order in which power was used to punish the oppressor, and to assist and reward those who possessed faith in Allah Most High and whose conduct was righteous. He also had the compassion and wisdom to allow the primitive way of life to survive in history.

Surah ini diakhiri dengan kiasan DhuI Qarnain, yang memiliki iman dan kekuatan, dan yang menguasai tatanan dunia yang mana kekuasaan digunakan untuk menghukum penindas, dan untuk membantu orang-orang yang memiliki Iman kepada Allah SWT dan yang melakukan kebajikan. Dia juga memiliki belas kasih dan kebijaksanaan untuk menjaga dan memungkinkan cara hidup primitif (sederhana) untuk bertahan hidup.

Sūrah al-Kahfi menjelaskan kepada umat manusia tentang dunia surgawi yang mungkin ada pada akhir sejarah jika umat manusia menerima Muhammad SAW sebagai nabi yang terakhir dan mengikutinya.

Tapi mereka menolaknya, jadi sejarah sekarang berakhir dengan cara yang persis sebaliknya, yaitu dengan dunia yang mana neraka menanti orang-orang yang menolak Muhammad Saw, atau yang menerimanya namun kemudian mengkhianatinya saat mereka diuji. Di akhir zaman inilah ‘Neraka’ itu sendiri sekarang terbentang di depan mata orang-orang seperti itu, – mata yang tidak memiliki pengetahuan spiritual internal dan karenanya tidak menyadari tanda-tanda kekuasaan Allah SWT yang terus-menerus terungkap di dunia:

وَعَرَضْنَا جَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لِلْكَافِرِينَ عَرْضًا

Dan, pada Hari itu, Kami akan membentangkan neraka agar dapat dilihat oleh semua, di hadapan orang-orang yang mengingkari kebenaran – (Qur’an, al-Kahfi, 18:100)

الَّذِينَ كَانَتْ أَعْيُنُهُمْ فِي غِطَاءٍ عَنْ ذِكْرِي وَكَانُوا لَا يَسْتَطِيعُونَ سَمْعًا

mereka yang matanya telah ditutup untuk dapat mengingat Aku karena mereka tidak tahan untuk mendengar [suara kebenaran]! (Qur’an, al-Kahfi, 18:101)

Orang-orang yang merupakan kebalikan dari Dhul Qarnain dilepaskan ke dunia pada masa Nabi Muhammad Saw tak lama setelah menjadi jelas bahwa orang-orang Yahudi menolaknya. Ya’juj dan Ma’juj memiliki kekuatan yang tak tertahankan untuk menguasai dunia, namun kekuatan mereka bergantung pada fondasi yang tidak bertuhan (tidak beriman), dekaden dan korup. Merekalah yang telah menjalankan tatanan dunia saat ini dimana kekuatan digunakan untuk menindas, berperang melawan Islam dan cara hidup religius, dan untuk memusnahkan dan melenyapkan cara hidup sederhana.

History is also culminating with a godless Gog and Magog world-order which has liberated the Holy Land for the Jews (as divinely prophesied in the Qur’ān). That godless world-order has also brought the Jews back to the Holy Land to reclaim it as their own, and has restored a State of Israel in the Holy Land. The Jews were deceived into embracing an imposter State as the Holy Israel of Prophets David and Solomon (Allah’s blessings be upon them both). That imposter Israel is taking most of the Jewish people as well as all others who support Israel to their final destruction. Our book entitled ‘Jerusalem in the Qur’ān’ explains that very important subject in quite some detail.

Sejarah juga berpuncak pada tatanan dunia Ya’juj dan Ma’juj yang tidak mengenal Allah yang telah membebaskan Tanah Suci [Yerusalem] untuk orang-orang Yahudi (sebagaimana dinubuatkan Allah dalam Al-Qur’an). Tatanan dunia yang tidak bertuhan itu juga telah membawa orang-orang Yahudi kembali ke Tanah Suci [Yerusalem] untuk meng-klaim kembali sebagai milik mereka, dan telah mendirikan kembali sebuah Negara Israel di Tanah Suci [Yerusalem]. Orang-orang Yahudi ditipu untuk menerima sebuah Negara palsu sebagai negara suci dari Nabi Daud dan Sulaiman (as). Israel palsu ini membawa sebagian besar orang Yahudi dan juga orang-orang yang mendukung Israel ke ujung kehancuran mereka.

Ketika para pembaca mulai mempelajari surah al-kahfi ini, mereka disarankan untuk memanjatkan do’a seraya memohon kepada Allah SWT agar diberikan NUR (yaitu, penerangan/ pengetahuan) yang dengannya kita dapat memahami Surah ini karena surah ini menjelaskan keanehan zaman modern yang melancarkan perang tidak adil terhadap Islam.

Berikutini teks Bahasa Arab dari surah Al-Kahfi dengan terjemahan bahasa Indonesia dan tafsir yang menghubungkan Surah ini dengan zaman modern. Terkadang terjemahan bahasa Indonesia sederhana dari sebuah ayat, yang tetap mendekati makna dari teks bahasa Arabnya, sulit dimengerti tanpa beberapa penjelasan sederhana. Jadi, kami juga memberi penjelas tambahan dari sebuah ayat setelah terlebih dahulu memberikan terjemahan sederhana dari ayat tersebut.

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Sang Pemberi Rahmat

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا

Terjemahan:

SEGALA PUJI sepantasnya dipanjatkan kepada Allah, yang telah menurunkan kitab Ilahi ini [Al-Qur’an] kepada hamba-Nya [Muhammad] dan tidak membiarkan sedikit pun kebengkokan mengaburkan maknanya: (18:1)

Tafsir:

Pernyataan pembuka Sūrah al-Kahf ini benar-benar memiliki makna penting. Ini menyampaikan sebuah pesan yang tidak menyenangkan yang mengekspos kerusakan dari kitab suci Ilahi sebelumnya melalui perubahan yang dibuat pada teks asli. Tapi Allah SWT telah memberikan jaminan Ilahi bahwa ayat Al-Quran ini tidak akan pernah bisa dirusak. Lebih dari 1400 tahun telah berlalu sejak Al-Qur’an diturunkan, dan deklarasi tentang jaminan teks al-Qur’an ini tidak bisa dirusak secara menakjubkan telah lulus ujian waktu itu. Al-Quran masih tetap utuh sampai hari ini dengan teks yang persis sama dengan yang diwahyukan, dan itu adalah sesuatu yang benar-benar menakjubkan dalam sejarah.

Ini juga menyampaikan pesan bahwa seiring berjalannya waktu, Al-Quran ini akan terus mengekspos semua perubahan [berupa kebohongan dan kesalahan] yang telah dibuat oleh umat Yahudi dan Nasrani pada ayat-ayat kitab suci sebelumnya yang diturunkan Allah SWT kepada mereka.

Pembongkaran kebohongan itu terjadi ketika orang-orang beriman mematuhi perintah Allah untuk merespon orang-orang yang melancarkan perang terhadap Islam sambil bersembunyi di balik segunung kebohongan dan penipuan (misalnya, “senjata pemusnah massal di Irak”, “orang-orang Arab dan Muslim menyerang Amerika Serikat pada tanggal 11 September 2001”, dll.) dan dengan penindasan barbar dan pembantaian. Inilah perintah Allah SWT: “Jangan menyerah kepada orang-orang kafir, tapi lawan mereka secara keras dengan ini (Al-Qur’an)” yaitu, dengan melakukan “perjuangan besar” melawan mereka, sambil menggunakan Al-Qur’an sebagai senjata dasar perjuangan itu (Qur’ān, al-Furqān, 25:52).

Al-Qur’an menyebutkan pengrusakan pada isi kitab-kitab suci sebelumnya yang diwahyukan kepada orang-orang Israel, yaitu Taurat Nabi Mūsa as, Zabur Nabi Daud as, dan Injīl Nabi Īsa as. Saat mengarahkan perhatian pada kerusakan isi kitab suci Kristen dan Yahudi tersebut, ayat ini juga memberikan peringatan dan tanggapan Allah terhadap kerusakan isi kitab suci itu yang nantinya berakibat sangat buruk di akhir zaman, yaitu ujian dan cobaan luar biasa dari Dajjāl, dan Ya’juj dan Ma’juj. Sūrah al-Kahfi adalah surah utama dalam Al-Qur’an yang terkait dengan Dajjāl dan juga Ya’juj dan Ma’juj.

Maksudnya adalah dalam usaha untuk memahami dan mengenali ujian dan cobaan Dajjāl, serta Ya’juj dan Ma’juj, kita harus mengarahkan perhatian utama terhadap kitab Kristen dan Yahudi yang mana mereka masih keras kepala mempertahankan kitab yang isinya sudah dirusak itu sementara Al-Quran sudah diturunkan.

Berdasarkan hal di atas, orang-orang yang percaya kepada Al-Qur’an sebagai Firman Allah SWT yang selalu utuh memiliki suatu kewajiban untuk menemukan semua benih jahat itu (yaitu, perubahan teks) yang terdapat dalam kitab suci Yahudi dan Kristen yang mana telah direspon oleh Al Qur’an’ān. Pengetahuan yang didapat dari hal ini sangat penting untuk dapat bertahan hidup di zaman Dajjāl dan Ya’juj dan Ma’juj karena benih jahat itu akan menjadi medan pertempuran dimana Allah SWT akan melepaskan badai jahat di akhir zaman.

Pernyataan pembuka ini juga menetapkan karakter Al-Qur’an yang tidak kontradiktif dan tidak ambigu yang menyatakan bahwa ia bebas dari segala ketidakjelasan dan kontradiksi internal: “Jika diturunkan bukan dari Allah (Maha Tinggi), mereka pasti akan menemukan di dalamnya banyak kontradiksi!” (Qur’ān, al-Nisā, 4:82)

Leave a Reply